Kamis, 29 Desember 2011

Konsep Manusia dan Relisiensi

A. Pengertian Resiliensi
Secara etimologi, kata resiliensi berasal dari kata Latin “resilire” yang artinya melambung kembali. Pada mulanya istilah ini digunakan dalam konteks fisik atau ilmu fisika. Resiliensi berarti kemampuan untuk pulih kembali dari suatu keadaan, kembali ke bentuk semula setelah dibengkokkan, ditekan, atau diregangkan. Bila digunakan dalam bidang psikologi, resi1iensi berarti kemampuan manusia untuk cepat pulih dari perubahan, sakit, kemalangan, atau kesulitan (the Resiliency Center, 2005).
Berikut pendapat beberapa para ahli mengenai pengertian resiliansi :
1. Menurut Gallagher dan Ramey (dalam Isaacson, 2002), resiliensi adalah kemampuan untuk pulih secara spontan dari hambatan dan mengkompensasi kekurangan atau kelemahan yang ada pada dirinya.
2. Joseph (dalam Isaacson, 2002) menyatakan bahwa resiliensi adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi terhadap perubahan, tuntutan, dan kekecewaan yang muncul dalam kehidupan.
3. Werner dan Smith (dalam Isaacson, 2002) mendefinisikan resiliensi sebagai kapasitas untuk secara efektif menghadapi stres internal berupa kelemahan-kelemahan mereka maupun stres eksternal (misalnya penyakit, kehilangan, atau masalah dengan keluarga).

B. Konsep Resiliensi Pada Diri Manusia
Dalam diri manusia konsep resiliensi dapat dikelompokan ke dalam tiga sudut pandang utama, yaitu sebagai berikut:
1. Resiliensi Sebagai Kemampuan Untuk Beradaptasi
Adaptasi adalah proses penyesuaian diri makhluk hidup pada lingkungannya, termasuk di dalamnya manusia. Adaptasi terjadi sebagai bentuk usaha dari makhluk agar dapat tetap survive (bertahan hidup). Dalam proses adaptasi manusia, ada sebuah usaha melawan apa yang sudah biasa mereka lakukan dan mencoba mengidentifikasikan dirinya terhadap keadaan sekitar. Hal itu agar manusia tersebut dapat hidup damai, tenang, tentram, bahagia, dan berdampingan dengan manusia lain.
Pengertian resiliensi yang dikemukakan oleh Joseph diatas tadi, bahwa resiliensi adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi terhadap perubahan, tuntutan, dan kekecewaan yang muncul dalam kehidupan. Berdasar pengertian tersebut dapat kita lihat bahwa kemampuan adaptasi manusia masuk ke dalam konsep resiliensi.
2. Resiliensi Sebagai Bentuk Kebangkitan Kembali Dari Segala Bentuk Tekanan
Dalam hidup, manusia selalu mengalami tekanan-tekanan yang silih berganti. Semua itu merupakan sunatulloh dari sang pencipta. Tetapi, Alloh swt tidak hanya memberi tekanan-tekanan saja kepada manusia, tetapi manusia juga diberi kemampuan untuk melewati itu semua.
3. Resiliensi Terlihat dalam Suatu Keadaan Dimana Seseorang Memiliki Resiko Besar untuk Gagal namun Ia Tidak (gagal).
Dalam perjalanannya, terminologi resiliensi mengalami perluasan dalam hal pemaknaan. Diawali dengan penelitian Rutter & Garmezy (dalam Klohnen, 1996), tentang anak-anak yang mampu bertahan dalam situasi penuh tekanan. Dua peneliti di atas menggunakan istilah resiliensi sebagai descriptive labels yang mereka gunakan untuk menggambarkan anak-anak yang mampu berfungsi secara baik walaupun mereka hidup dalam lingkungan buruk dan penuh tekanan.
Dalam konsep di atas, manusia dapat bertahan dari suatu keadaan yang pada awalnya tidak begitu menguntungkan/merugikan/buruk, tetapi dengan kemampuan bertahan hidupnya dan usahanya ia dapat mengubah ketidakuntunngan itu menjadi sebuah hal yang luar biasa. Begitu luar biasanya manusia dengan pemberian berbagai kelebihan kekuatan yang terpendam dan terkadang manusia itu sendiri tidak menyadarinya.
C. Ciri-ciri Manusia Yang Resilien
Menurut Wolin dan Wolin (1999), ada tujuh karakteristik utama yang dimiliki oleh individu yang resilien. karakteristik-karakteristik inilah yang membuat individu mampu beradaptasi dengan baik saat menghadapi masalah, mengatasi berbagai hambatan, serta mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Masing-¬masing karakteristik ini memiliki bentuk yang berbeda-beda dalam tiap tahap perkembangan (anak, remaja, dcwasa). Berikut karakteristik / ciri-ciri manusia yang resilien :
1. Insight
kemampuan untuk memahami dan memberi arti pada situasi, orang-orang yang ada di sekitar, dan nuansa verbal maupun nonverbal dalam komunikasi, individu yang memiliki insight mampu menanyakan pertanyaan yang menantang dan menjawabnya dengan jujur. Hal ini membantu mereka untuk dapat memahami diri sendiri dan orang lain serta dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi.
2. Kemandirian
kemampuan untuk mengambil jarak secara emosional maupun fisik dari sumber masalah dalam hidup seseorang. Kemandirian melibatkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara jujur pada diri sendiri dengan peduli pada orang lain. Orang yang mandiri tidak bersikap ambigu dan dapat mengatakan “tidak” dengan tegas saat diperlukan. Ia juga memiliki orientasi yang positif dan optimistik pada masa depan.
3. Hubungan
Seseorang yang resilien dapat mengembangkan hubungan yang jujur, saling mendukung dan berkualitas bagi kehidupan, ataupun memiliki role model yang sehat. Remaja mengembangkan hubungan dengan melibatkan diri (recruiting) dengan beberapa orang dewasa dan teman sebaya yang suportif dan penolong. Pada masa dewasa, hubungan menjadi matang dalam bentuk kelekatan (attaching), yaitu ikatan personal yang menguntungkan secara timbal balik dimana ada karakteristik saling memberi dan menerima.
4. Inisiatif
Individu yang resilien bersikap proaktif, bukan reaktif, bertanggung jawab dalam pemecahan masalah, selalu berusaha memperbaiki diri ataupun situasi yang dapat diubah, serta meningkatkan kemampuan mereka menghadapi hal-hal yang tak dapat diubah. Mereka melihat hidup sebagai rangkaian tantangan dimana mereka yang mampu mengatasinya. Anak-anak yang resilien memiliki tujuan yang mengarahkan hidup mereka secara konsisten dan mereka menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh untuk berhasil di sekolah.
5. Kreativitas
Kreativitas melibatkan kemampuan memikirkan berbagai pilihan, konsekuensi, dan alternatif dalam menghadapi tantangan hidup. Individu yang resilien tidak terlibat dalam perilaku negatif sebab ia mampu mempertimbangkan konsekuensi dari tiap perilakunya dan membuat keputusan yang benar.
Kreativitas juga melibatkan daya imajinasi yang digunakan untuk mengekspresikan diri dalam seni, serta membuat seseorang mampu menghibur dirinya sendiri saat menghadapi kesulitan. Anak yang resilien mampu secara kreatif menggunakan apa yang tersedia untuk pemecahan masalah dalam situasi sumber daya yang terbatas. Selain itu, bentuk-bentuk kreativitas juga terlihat dalam minat, kegemaran, kegiatan kreatif dari imajinatif.
6. Humor
Humor adalah kemampuan untuk melihat sisi terang dari kehidupan, menertawakan diri sendiri, dan menemukan kebahagiaan dalam situasi apapun. Seseorang yang resilien menggunakan rasa humornya untuk memandang tantangan hidup dengan cara yang baru dan lebih ringan. Rasa humor membuat saat-saat sulit terasa lebih ringan.
7. Moralitas
Moralitas atau orientasi pada nilai-nilai ditandai dengan keinginan untuk hidup secara baik dan produktif. Individu yang resilien dapat mengevaluasi berbagai hal dan membuat keputusan yang tepat tanpa takut akan pendapat orang lain. Mereka juga dapat mengatasi kepentingan diri sendiri dalam membantu orang yang membutuhkan. Moralitas adalah kemampuan berperilaku atas dasar hati nurani.




BAB III
PENUTUP
Dari pembahasan diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa resiliensi adalah suatu kemampuan manusia dalam menghadapi segala hambatan dalam hidup, mengembangkan segala potensinya, meminimalisir kekurangannya dan kembali bangkit dari keterpurukan. Ciri-ciri manusia yang resilien ada tujuh, yaitu insight, kemandirian, hubungan, kreatifitas, inisiatif, humor, dan moralitas.
Orang yang resilien lebih mudah dalam mengatur regulasi emosi. Mereka cepat memutus perasaan yang tak sehat, yang kemudian justru membantunya tumbuh menjadi orang yang lebih kuat. Mereka menjadi contoh atas apa yang pernah disampaikan oleh Wilhelm Nietzsche’s : “That which does not kill me, makes me stronger”. “Apa yang tidak membunuh saya, justru akan makin menguatkan saya.”
Resiliensi pada dasarnya ada dalam diri setiap manusia, hanya saja tergantung pakah manusia tersebut bersedia mengembangankannya dan mengaktualisasikan ketika dibutuhkan. Oleh karena itu, sebagai menusia yang sadar akan adanya Tuhan YME (Alloh SWT), kita wajib berusaha semaksimal mungkin dalam mengembangan segala potensi bawaan sebagai fitrah dari-Nya.

SUMBER
http://rimuu.wordpress.com/2010/05/26/aku-bisa-bertahan-dan-bangkit-kembali-resiliensi-diri/

Tidak ada komentar: