Selasa, 01 Mei 2012
PENDIDIKAN INDONESIA
Pendidikan yang sudah kita ketahui yaitu usaha sadar dan sistematis dalam bentul proses belajar mengajar untuk mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik, supaya mencapai tujuan yang diharapkan. Pendidikan lebih familiar dengan sekolah yang berbentuk pendidikan formal. Dikarenakan disekolah pendidikan dilakukan dengan sistematis dan lebih terencana dibanding dengan pendidikan nonformal. Pendidikan juga identik dengan kegiatan pem-belajar-an. Belajar tidaklah sempit berada pada sekolah saja, namun dimanapun, kapanpun dan siapapunmampu melakukan kegiatan belajar. Tujuan belajar juga untuk mendapatkan pengetahuan. Jadi disetiap detik kita dapat mengetahui sesuatu yang baru, disitulah kita dikatakan belajar. Di Indonesia, pendidikan merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh semua kalangan. Dengan alasan apapun, mengemyam pendidikan adalah hal yang penting, yang juga sangat dianjurkan dalam agama. Karena menurut agama, orang yang berilmu akan ditinggikan beberapa derajatnya daripada orang yang tidak berilmu. Tentu saja agama menganjurkan, bagaimana bisa kita dapat beragama dengan baik tanpa mengetahui ilmunya. Jika kita hanya beragama saja, tanpa menuntut ilmu, kita akan mejadi orang yang bertaqlid, kemana arah orang berkembang, maka kita akan senantiasa berada dibelekangnya, tanpa mengetahui apakah itu haq atau pun bathil.
Dari zaman ke zaman, pengetahuan semakin berkembang secara cepat. Zaman menuntut manusia untuk menggunakan akal pikiran supaya aktif dan kreatif sehingga tidak tertinggal dengan zaman itu sendiri. Disamping itu, tetap berpegang teguh pada ajaran agama dan kitabullah tidak harus terlepas dalam kehidupan. Memang pengetahuan terutama sains lebih banyak berkembang dinegara barat, mereka dapat dikatakan lebih berhasil daripada kita. Bahkan dalam studi sehari-hari, kita senantiasa melestarikan teori-teori yang telah dihasilkan ilmuwan barat tersebut. Seharusnya, kita tidak hanya mempelajari teori-teori tersebut saja, namun kita juga memanfaatkan teori tersebut untuk menghasilkan teori baru. Dengan begitu, kita tidak hanya memasukkan pengetahuan yang sudah ada saja, namun kita mampu menghasilkan pengetahuan baru walaupun hanya mengembangkan dari teori yang sudah ada.
Di Indonesia, memang sekolah-sekolah sudah cukup banyak dan merata, baik sekolah negeri maupun swasta, dari sekolah yang gratis sampai yang paling mahal. Contohnya saja di Yogyakarta. Hampir setiap desa memiliki sekolah, sampai-sampai kurangnya murid pada beberapa sekolah. Hal itu adalah perkembangan positif yang terjadi di negara kita. Karena dengan demikian, masyarakat dari semua kalangan mampu menjangkaunya. Tapi ternyata, hal tersebut tidak hanya membawa dampak positif saja, dampak negatif pun justru saling bermunculan. Kita telaah satu-satu.
Pertama, masalah sarana prasarana didalam sekolah. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang lengkap. Sekolah yang negeri pun fasilitasnya tidak semua sama, padahal sama-sama sekolah negara. Memang, pemerintah tidak bisa sepenuhnya selalu terlibat dalam mengurus tiap-tiap sekolah negeri yang ada. Oleh karenanya, dibentuklah panitia khusus untuk mengelola sekolah yang terdiri dari personil-personil sekolah. Selain itu juga disetiap tingkat-tingkat daerah, mulai dari kecamatan, kabupaten, provinsi, sampai negara telah dibentuk panitia tersebut. Meskipun telah dibentuk pengelola-pengelola sekolah, namun kelengkapan sarana prasarana sekolah belum tentu akan terpenuhi. Nyatanya masih banyak sekolah-sekolah yang fasilitasnya sangat kurang bahkan memprihatinkan. Komunikasi antara yang berada dibawah dan yang diatas, tidaklah semulus kita berkomunikasi dengan kawan kita. Mungkin itu yang menyebabkan minimnya sarana prasarana tersebut. Sekolah-sekolah yang letaknya didesalah yang kebanyakan mengalamai masalah tersebut. Sekolah-sekolah desa, jarang fasilitasnya yang melebihi sekolah dikota. Jelas sekali terlihat diskriminasi disini. Orang-orang kota bisa menikmati fasilitas yang lengkap sehingga pantas kalau siswa-siswa dikota memiliki pengetahuan yang lebih dibanding siswa didesa.
Kedua, kualitas guru. Guru adalah bagian terpenting dari suatu pendidikan. Peran guru tidak dapat digantikan oleh apapun walaupun, sekarang telah banyak teknologi yang sedikit menggeser peran guru. Namun, teknologi tersebut tidaklah memiliki salah satu aspek terpenting yang harus ada dalam suatu bimbingan seperti yang dimiliki oleh guru. Rasa, itulah yang tidak dimiliki oleh teknologi secanggih apapun. Dalam bimbingan, rasa yang menuntun untuk mendapatkan kefahaman dan penghayatan peserta didik. Tapi masalahnya, kualitas guru pada tiap sekolah tidaklah sama. Anehnya lagi, guru yang kurang berkualitas akan berada pada daerah-daerah pelosok, namun guru-guru yang berkualitas berada di daerah-daerah perkotaan. Bukankah dengan begitu, sekolah pelosok akan semakin terpojok dan sekolah kota dengan fasilitas yang lebih memadai pula akan semakin maju. Selain itu, kebiasaan guru yang kurang baik, semakin menambahkan masalah bagi peserta didik, yaitu guru biasanya lebih bersimpati kepada murid yang pandai dari pada murid yang kurang pandai. Maka, kesenjangan yang terjadi semakin menonjol dari masalah yang universal sampai yang lebih kompleks. Oleh karena itu, tidak heran jika muncul pernyataan-pernyataan “Orang miskin dilarang kuliah?” “Orang bodoh tidak boleh pandai?”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar