Selasa, 01 Mei 2012
PARADIGMA ILMIAH POSITIVISTIK
A. Paradigma
Atas berbagai kritik dari beberapa ahli, Thomas Khun , menajamkan dua macam paradigma, yaitu paradigma dalam arti luas dan paradigma dalam makna sempit. Dalam makna luas adalah paradigma yang prosedurnya dapat di gunakan untuk banyak ilmu. Dan dalam makna sempit, adalah pengembangan matrikal dalam suatu disiplin ilmu.
Keunggulan paradigma di bandingan teori adalah
1. Dengan menggunakan paradigma kita dapat menemukan daerah ambigu. Contoh ketika anda di tanya apa perbedaan pendidikan nonformal dan formal. Jika anda menggunakan paradigma tentu anda akan berpikir mendalam. Dengan mengerucutkan pandangan pada paradigma pendidikan anda akan menemukan kesamaannya, yaitu keduanya memiliki program. Dan lebih jauh lagi anda akan menemukan perbedaan dalam keduanya, yaitu tujuan dan usia. Dengan rekonseptualisasi anda akan menyatukannya dalam pembelajaran atau schooling. Rekonseptualisasi akan anda lakukan ke dalam daerah ambigu, sehingga anda akan menemukan daerah ambigu nya yaitu : pendidikan formal dan learning society. Dengan paradigma baru relasi pendidikan-subjek didik, anda akan memasukkan pendidikan dengan program pembelajaran di sebut scooling dan penciptaan iklim pendidikan dalam konteks program berkehidupan di sebut learning society . Dengan menggunakan paradigma anda akan berupaya membangun paradigma dan melahirkan teori baru.
2. Membantu mengembangkan intepretasi
3. Membantu mengembangkan teori baru tanpa mengubah paradigma.
B. Positifisme
Istilah positivisme di gunakan pertama kali oleh Saint Simon (sekitar 1825). Positifisme berakar pada empirisme. Tesis positifisme bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid dan fakta-fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi objek pengetahuan. Berfikir positivistik adalah berfikir spesifik, berfikir tentang emperi yang teramati, yang terukur, dan dapat dieleminasikan serta dimanipulasikan, dilepaskan dari satuan besarnya. Dengan demikian positifisme menolak segala kekuatan atau subjek di belakang fakta, menolak segala penggunaan metode diluar yang di gunakan untuk menelaah fakta.
C. Visualisasi Metodologi Positifistik
Berpikir positifistik adalah berpikir spesifik, berpikir tentang empiri yang teramati, yang terukur dan dapat di eliminasi serta dapat di manipulasikan dari satuan besarnya. Satuan terkecil dari satuan obyek di sebut dengan variabel. Mahasiswa misalnya, adalah subyek pendukung dari banyak variabel, seperti : intelegensi, kesehatan, perkembangan fisik, pola perilaku dan banyak lagi. Di lihat dari segi positifistik penelitian perlu di sesuaikan dengan obyek formil ilmunya, dan selanjutnya hanya meneliti sejumlah objek spesifik yang di sebut variabel. Sejumlah objek tersebut di uji relevansi atau keterkaitan antara satu dengan yang lain. Variabel a di uji relevansinya dengan variabel b, c, d dan seterusnya. Dalam IPA, untuk mencari karakteristik air, di uji relevansinya tentang sifat air terhadap berbagai hal, sehingga akan di ketahui berbagai hal tentang sifat air. Cara berfikir ini di transfer ke objek lain, termasuk manusia dan masyarakatnya. Saat di uji relevansi sejumlah variabel, maka variabel lain dieliminasikan. Eliminasi pertama di asumsikan variabel lain berperan tetap. Eliminasi kedua adalah eliminasi phisik, eliminasi ini di lakukan dengan cara mengambil lokasi di mana variabel lain tersebut tidak muncul. Eliminasi ketiga, adalah di adakan kontrol atau pemantauan peran variabel lain dengan menggunakfistikan teknik statistik.
Teknis, variabel apapun dapat di uji relevansinya dengan variabel lain apapun. Sehingga kita dapat terjebak pada bukti relevannya “frekuensi banyak katak bunyi” dengan “frkuensi banyaknya jas hujan laku di toko” . Bukti teknis statistik tersebut benar, tapi tidak logis. Barulah teoritik bermakna dan logis ketika di beri payung berupa “konteks musim hujan”. Itu berarti bahwa menguji relevansi sejumlah variabel perlu di landasi tata-berpikir logis tertentu. Penjelasan dan pertanggungjawaban logis perlu di lakukan sebelum menguji relevansinya secara statistik. Pertanggungjawaban logis tersebut sering terjebak menjadi sangat spesifik . Malahan ada disiplin ilmu, misal psikologi proyektif, pemaknaan logik dapat di kalahkan oleh pemaknaan empirik.
D. Pendekatan Ilmiah Potivisme Auguste Comte
Comte adalah tokoh aliran positivisme yang paling terkenal. Pendekatan positivistik diilhami oleh gerakan keilmuan masa modern, yang mengharuskan adanya kepastian didalam suatu kebenaran. Hal ini bisa terwujud apabila kebenaran dari suatu kesimpulan dapat diukur, diobservasi dan diverifikasi. Inilah yang disebut positif. Prinsip utama kaum ini dengan penalaran induktifnya adalah termuat dalam pernyataan mereka yang menyebutkan bahwa tugas ilmu pengetahuan modern tidak lain yaitu merumuskan hukum-hukum yang bersifat umum dan mutlak perlu. Kaitan antara penalaran induksi dengan pandangan positivistic yang verifiable, measurable, dan observable, pada hakekatnya bertumpu pada cara kerja ilmu pasti alam. Yakni adanya kepastian hukum dan konstan serta terbukti secara empiris. Pada prinsipnya verifikasi tidak pernah bisa untuk menyatakan kebenaran hukum umum.
Padahal kenyataan membuktikan bahwa terjadinya generalisasi pada induksi, sebab dari kasus konkret dan khusus disimpulkan hukum umum (besi memuai). Jelasnya adalah jika prinsip induksi diakui, maka mestinya mereka sadar bahwa (sebagaimana juga metafisika) sebagian besar ilmu pengetahuan alam; dengan dasar kebenaran umum/ generalisasi/induksi, tersebut juga tidak bermakna. Sebab hal itu tidak berkenaan dengan wilayah empirik lagi melainkan rasio.
Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dimana metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Aliran ini tentunya mendapat pengaruh dari kaum empiris dan mereka sangat optimis dengan kemajuan dari revolusi Perancis.
Pendiri filsafat positivis yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simon yang menjadi guru sekaligus teman diskusi Comte. Menurut Simon untuk memahami sejarah orang harus mencari hubungan sebab akibat, hukum-hukum yang menguasai proses perubahan. Mengikuti pandangan 3 tahap dari Turgot, Simon juga merumuskan 3 tahap perkembangan masyarakat yaitu tahap Teologis, (periode feodalisme), tahap metafisis (periode absolutisme) dan tahap positif yang mendasari masyarakat industri.
Dengan menggunakan metode-metode diatas Comte berusaha merumuskan perkembangan masyarakat yang bersifat evolusioner menjadi 3 kelompok yaitu, pertama, Tahap Teologis, merupakan periode paling lama dalam sejarah manusia, dan dalam periode ini dibagi lagi ke dalam 3 sub periode, yaitu Fetisisme, yaitu bentuk pikiran yang dominan dalam masyarakat primitif, meliputi kepercayaan bahwa semua benda memiliki kelengkapan kekuatan hidupnya (kemauan) sendiri. Politheisme, muncul adanya anggapan bahwa ada kekuatan-kekuatan yang mengatur kehidupannya atau gejala alam. Monotheisme, yaitu kepercayaan dewa mulai digantikan dengan yang tunggal, ada satu Tuhan yang menampilkan kemampuannya pada beragam obyek, dan puncaknya ditunjukkan adanya Khatolisisme.
Kedua, Tahap Metafisik merupakan tahap transisi antara tahap teologis ke tahap positif. Tahap ini ditandai oleh satu kepercayaan akan hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dalam akal budi. Ketiga, Tahap Positif ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai sumber pengetahuan terakhir, tetapi sekali lagi pengetahuan itu sifatnya sementara dan tidak mutlak, disini menunjukkan bahwa semangat positivisme yang selalu terbuka secara terus menerus terhadap data baru yang terus mengalami pembaharuan dan menunjukkan dinamika yang tinggi. Analisa rasional mengenai data empiris akhirnya akan memungkinkan manusia untuk memperoleh hukum-hukum yang bersifat uniformitas.
Comte mengatakan bahwa disetiap tahapan tentunya akan selalu terjadi suatu konsensus yang mengarah pada keteraturan sosial, dimana dalam konsensus itu terjadi suatu kesepakatan pandangan dan kepercayaan bersama, dengan kata lain sutau masyarakat dikatakan telah melampaui suatu tahap perkembangan diatas apabila seluruh anggotanya telah melakukan hal yang sama sesuai dengan kesepakatan yang ada, ada suatu kekuatan yang dominan yang menguasai masyarakat yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan konsensus demi tercapainya suatu keteraturan sosial.
Pada tahap teologis, keluarga merupakan satuan sosial yang dominan, dalam tahap metafisik kekuatan negara-bangsa (yang memunculkan rasa nasionalisme/ kebangsaan) menjadi suatu organisasi yang dominan. Dalam tahap positif muncul keteraturan sosial ditandai dengan munculnya masyarakat industri dimana yang dipentingkan disini adalah sisi kemanusiaan. (Pada kesempatan lain Comte mengusulkan adanya Agama Humanitas untuk menjamin terwujudnya suatu keteraturan sosial dalam masyarakat positif ini).
Comte menuangkan gagasan positivisnya dalam bukunya the Course of Positivie Philosoph, yang merupakan sebuah ensiklopedi mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis yang semuanya itu tewujud dalam tahap akhir perkembangan. Perkembangan ini diletakkan dalam hubungan statika dan dinamika, dimana statika yang dimaksud adalah kaitan organis antara gejala-gejala ( diinspirasi dari de Bonald), sedangkan dinamika adalah urutan gejala-gejala (diinspirasi dari filsafat sehjarah Condorcet).
Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu :
1. Metode ini diarahkan pada fakta-fakta
2. Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup
3. Metode ini berusaha ke arah kepastian
4. Metode ini berusaha ke arah kecermatan.
Metode positif juga mempunyai sarana-sarana bantu yaitu pengamatan, perbandingan, eksperimen dan metode historis. Tiga yang pertama itu biasa dilakukan dalam ilmu-ilmu alam, tetapi metode historis khusus berlaku bagi masyarakat yaitu untuk mengungkapkan hukum-hukum yang menguasai perkembangan gagasan-gagasan.
E. Pengaruh Positivisme Comte
Positivisme yang diperkenalkan Comte berpengaruh pada kehidupan intelektual abad sembilan belas. Di Inggris, sahabat Comte, Jhon Stuart Mill, dengan antusias memerkenalkan pemikiran Comte sehingga banyak tokoh di Inggris yang mengapresiasi karya besar Comte, diantaranya G.H. Lewes, penulis The Biographical History of Philosophy dan Comte’s Philosophy of Sciences; Henry Sidgwick, filosof Cambridge yang kemudian mengkritisi pandangan-pandangan Comte; John Austin, salah satu ahli paling berpengaruh pada abad sembilan belas; dan John Morley, seorang politisi sukses. Namun dari orang-orang itu hanya Mill dan Lewes yang secara intelektual terpengaruh oleh Comte.
Di Prancis, pengaruh Comte tampak dalam pengakuan sejarawan ilmu, Paul Tannery, yang meyakini bahwa pengaruh Comte terhadapnya lebih dari siapapun. Ilmuwan lain yang dipengaruhi Comte adalah Emile Meyerson, seorang filosof ilmu, yang mengkritisi dengan hormat ide-ide Comte tentang sebab, hukum-hukum saintifik, psikologi dan fisika. Dua orang ini adalah salah satu dari pembaca pemikiran Comte yang serius selama setengah abad pasca kematiannya. Karya besar Comte bagi banyak filosof, ilmuwan dan sejarawan masa itu adalah bacaan wajib.
Namun Comte baru benar-benar berpengaruh melalui Emile Durkheim yang pada 1887 merupakan orang pertama yang ditunjuk untuk mengajar sosiologi, ilmu yang diwariskan Comte, di universitas Prancis. Dia merekomendasikan karya Comte untuk dibaca oleh mahasiswa sosiologi dan mendeskripsikannya sebagai ”the best possible intiation into the study of sociology”. Dari sinilah kemudian Comte dikenal sebagai bapak sosiologi dan pemikirannya berpengaruh pada perkembangan filsafat secara umum.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar